Kultur Sekolah (Laporan Baca 3)


Nama : Putri Hifdiyani
Nim : 11901103
Kelas : PAI 4F

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. 

Sekian lama saya tidak menulis atau berbagi cerita di blog ini tapi, alhamdulillah pada kesempatan hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat dan waktu luang untuk menulis kembali di blog ini.. Emm seneng banget, dan semoga kalian yang membacanya juga diberi kesehatan oleh Allah SWT. 


Nah, kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai kultur sekolah untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber bacaan saya yaitu jurnal yang berjudul "KULTUR SEKOLAH DAN KINERJA PESERTA DIDIK MAN YOGYAKARTA III" dan skripsi yang berjudul "KULTUR SEKOLAH DI SMA GADJAH MADA YOGYAKARTA".. 

Langsung di simak aja yaa..


Eitss jangan lupa dicatet siapa tau ada yang penting!! 


Pengertian Kultur

Istilah kultur berasal dari bahasa Inggris “culture” yang dalam keseharian disinonimkan dengan istilah “budaya”. Kultur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan (Depdiknas, 2001: 611). Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan (Koentjaraningrat, 1983: 183). 

Geertz (Kuper, 1998) mendefinisikan kebudayaan merupakan suatu sistem makna dan simbol yang ditata, dengan pengertian dimana individu dapat mendefinisikan budayanya, menyatakan perasaan dan memberikan penilaian-penilaiannya; sesuatu yang berbentuk pola makna yang ditransmisikan secara historikyang diwujudkan dalam bentuk simbolik melalui sarana dimana orang-orang dapat mengkomunikasikan, mengabadikan, serta mengembangkan pengetahuan dan sikap-sikapnya ke ranah kehidupan; suatu kumpulan alat yang berbentuk simbolik untuk mengatur perilaku, dengan sumber informasi yang ekstrasomatik.

Deal dan Peterson (Farida Hanum, 2013: 194) mengungkapkan konsep kultur sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam mengeksplorasi perilaku-perilaku manusia kedalam kelompok￾kelompoknya. Kultur merupakan pandangan hidup yang dipercayai dan diakui bersama oleh suatu kelompok sehingga dapat menggenerasi yang mencakup pola berfikir, perilaku, sikap dan nilai yang dapat diwujudkan dalam bentuk fisik maupun abstrak (tidak dapat diamati). Kultur juga dapat diartikan sebagai pandangan hidup (way of life) berupa nilai-nilai, norma, kebiasaan, hasil karya, pengalaman dan tradisi yang mengakar dalam suatu masyarakat dan akan berpengaruh terhadap sikap perilaku setiap orang di dalam lingkungan tersebut (Aan Komariah dkk. 2006: 98).

Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca: pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah. Berdasarkan berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

Menurut Deal and Peterson yang dikutip oleh Ariefa Efianingrum (2013: 22) sekolah berperan untuk mentransfer kebudayan dari generasi ke generasi yang harus memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum karena kebudayaan yang berkembang disekolah memiliki pola prilaku tertentu dan merupakan bagian dari masyarakat luas yang memiliki ciri khas sebagai sub-kebudayaan. Sekolah juga merupakan salah satu institusi sosial yang dapat berpengaruh terhadap proses sosialisasi serta memiliki fungsi untuk mewarisi kebudayaan dalam masyarakat kepada anak (Ariefa Efianingrum, 2009: 16-17). 

Dengan demikian sekolah bukan hanya sebagai wadah untuk menampung siswa dalam menuntut ilmu akan tetapi berfungsi untuk mentransfer kebudayaan yang berkembang di masyarakat kepada anak namun harus memperhatikan kondisi masyarakat serta kebudayaan umum karena kebudayaan yang berkembang luas memiliki pengaruh besar terhadap pola prilaku sebagai suatu ciri khas dari masyarakat sekitar terhadap proses sosialisasi dan pola tingkah laku anak.

Fungsi dan Peran Kultur Sekolah 

Berdasarkan pemaparan diatas mengenai kultur sekolah berikut ini dapat dikemukakan mengenai fungsi dan peran kultur sekolah, sebagai berikut: 
a. Sebagai ciri khas yang dapat menjadi identitas serta citra suatu lembaga pendidikan. Dalam fungsi dan peran kultur sekolah ini dapat menjadi ciri tersendiri dari suatu sekolah yang menjdi ciri khas dan membedakan antara sekolah satu dengan yang lainnya sesuai dengan kultur yang berkembang didalam sekolah. 

b. Sebagai pedoman, kultur sekolah dapat menjadi pedoman atau pandangan bagi warga sekolah dalam batasan berprilaku yang sudah disepakati dan menggenerasi dari waktu ke waktu. 

c. Sebagai cara pemecahan masalah, kultur sekolah dapat menjadi sebuah keyakinan cara untuk memecahkan masalah, terbentuknya kultur sekolah tidak dapat menggunakan cara yang singkat. Untuk itu dalam hal ini kultur sekolah dapat manjadi keyakinan warga sekolah dalam memecahkan masalah menggunakan cara yang dipercayai dan dianggap benar untuk memecahkan suatu masalah. 

d. Sebagai strategi, kultur sekolah dapat dijadikan sebagai strategi untuk sekolah sebagai bahan agar dapat dibanggakan ataupun sebagai nilai popularitas sekolah. Strategi ini dapat difungsikan untuk membuat kebijakan sekolah dalam mengolah sumber daya yang terdapat di seuatu lembaga pendidikan. 

e. Sebagai tata nilai, dengan adanya kultur sekolah dapat menggambarkan situasi sosial sekolah seperti perilaku. Dengan adanya tata nilai yang berkembang disekolah, sekolah dapat merealisasikan dalam kebijakan sekolah sebagai harapan bagi warga sekolah dalam mewujudkan tujuan dari adanya pendidikan yang dapat dimuat dalam visi serta misi sekolah.

Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah dapat dibedakan menjadi dua yaitu, kultur sekolah positif dan kultur sekolah negatif. Kultur sekolah positif merupakan kultur sekolah yang dapat meningkatkan mutu sekolah serta mutu kehidupan, seperti sehat, kuat, stabil, dan aktif. Kultur sekolah yang positif dapat memperbaiki mutu sekolah sehingga dapat memberikan peluang bagi sekolah dan warga sekolah untuk mengoptimalkan kinerja agar lebih efisien dan efektif. Untuk itu kultur sekolah yang positif harus terus dikembangkan dan menjadi tanggung jawab bagi seluruh warga sekolah (Depdiknas, 2002). 
Kultur sekolah negatif tentunya merupakan kebalikan dari kultur sekolah positif, kultur sekolah negatif merupakan kultur sekolah yang tidak kondusif sehingga dapat menghambat sekolah dalam peningkatan mutu serta kualitas sekolah. Sejalan dengan penjelasan yang diberikan Depdiknas, Djemari Mardapi (2003) juga mengemukakan kultur sekolah positif dan kultur sekolah negatif, sebagai berikut: 

a. Kultur sekolah yang positif Kultur sekolah yang positif merupakan kultur dimana sekolah menyediakan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, seperti kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, serta komitmen terhadap belajar.
b. Kultur sekolah yang negatif Kultur sekolah yang negatif merupakan kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu pendidikan, yang dalam arti kata lain resisten terhadap perubahan.

Berikut beberapa contoh fenomena yang mudah dikenali dan diyakini dapat mencerminkan berbagai aspek kultural, yang masing-masing berkaitan dengan kualitas moralitas, dan multikultural (Farida Hanum, 2008: 14-15). 

a. Artifak terkait kultur positif 
1) Ada ambisi untuk meraih prestasi, pemberian penghargaan pada yang berprestasi. 
2) Hidup semangat menegakan sportivitas, jujur, mengakui keunggulan pihak lain. 
3) Saling menghargai perbedaan. 
4) Salig percaya (trust).

b. Artifak terkait kultur negatif 
1) Banyak jam kosong dan absen dari tugas. 
2) Terlali permisif terhadap pelanggaran nilai-nilai moral. 
3) Adanya friksi yang mengarah pada perpecahan, terbentuknya kelompok yang saling menjatuhkan. 
4) Penekanan pada nilai pelajaran bukan pada kemampuan.

Semoga bermanfaat ya. Apabila ada kesalahan dalam penulisan mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun. 

Sekian dan Terimakasih

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. 






Sumber:

Imtihan, Nurul. 2018. KULTUR SEKOLAH DAN KINERJA PESERTA DIDIK MAN YOGYAKARTA III. TADBIR : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, Nomor 2

Rosaliana, Fify. 2015. KULTUR SEKOLAH DI SMA GADJAH MADA YOGYAKARTA. Universitas Negeri Yogyakarta

Komentar